Panas Bumi di Pahae Pembangkit Tenaga Listrik Terbesar di Dunia

Posted by Diposkan oleh videsta On 23.01

Bupati Taput Torang Lumbantobing  menyata, masyarakat  Tapanuli Utara setiap tahun membelanjakan uangnya Rp 2 miliar hanya untuk membeli daging dan ikan mas dari luar Tapanuli Utara. Hal itu dikemukakannya kepada warga perantau Sumatera Utara  di Bandung, Sabtu (4/6) malam.
Seperti diketahui, tanggal 1 – 6 Juni, Bupati  Taput, Wakil Bupati Taput dengan sejumlah Pejabat Pemkab Taput, studi banding  ke Kabupaten  Bandung Jawa Barat, sekaligus  melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh asal Sumut guna menerima saran-saran  untuk memajukan Tapanuli Utara.

“Hal itu memang sangat disayangkan, Padahal Tapanuli Utara sangat  potensial untuk peternakan babi dan ikan mas jika saja masyarakat, giat beternak. Untuk itulah kami melakukan studi banding. Nantinya diharapkan Tapanuli Utara  tidak lagi membeli daging  dari luar Taput, malah harus  sebaliknya, menjual babi dan ikan mas ke luar daerah,” tandasnya.
Bupati Taput Torang Lumbantobing dan Ibu br Manalu, dalam kunjungannya ke Kabupaten Bandung didampingi Wakil Bupati Drs Frans Sihombing dan Ibu br  Pasaribu, Dirut RSU Tarutung dr Juni Simatupang SP THT, Mantan Duta Besar RI di Ceko Leonard Lumbantobing, Kadis Peternakan dan Perikanan Ir Longgam  Panggabean, Kabag Pengendalian Program Setdakab Ir  James Simanjuntak. Selama di Bandung Bupati  Taput didampingi Kepala BALITSA (Badan Penelitian Tanaman Sayur) Dep Pertanian RI Ir Bagus Kukuk Udiarto MSi.
Sementara itu, dr Juni Simatupang SP THT mengunjungi RSU Advent Jalan Cihampelas No 161, RSU Katolik Bromeus Jalan Ir Juanda, dan RSU Hasan Sadikin Bandung Jalan Pasteur No 38 Bandung.
“Kami akan meningkatkan pelayanan di RSU Tarutung agar para penderita sakit (pasien) tidak perlu jauh-jauh diboyong hanya untuk berobat ke Medan atau Penang,” ujarnya.
Selain itu, selama di Kabupaten Bandung, rombongan meninjau Balai Pertanian dan Perikanan di Lembang, peternakan babi di Subang dan tanaman kentang di Pengalengan  (Kabupaten Bandung bagian selatan-red).
Bupati Taput, kepada wartawan SIB di sela-sela perjalanan studi banding  itu menyatakan, ia akan mengimbau masyarakat Taput agar menanam pohon jarak. Sebab Tapanuli Utara cocok untuk tanaman ini. “Seperti diungkapkan dosen  ITB DR Robert Manurung, baru 15 persen kebutuhan dunia  akan buah pohon jarak yang diperlukan  untuk minyak itu, terpenuhi,” ujar Bupati.
“Pemkab Taput dan PT Kimia Farma telah menanda tangani MoU (Memorandum of Understanding, bahwa pihak PT Kimia Farma  bersedia membeli setiap buah pohon jarak dari masyarakat Dati II Tapanuli Utara, katanya.
Selesai melakukan studi banding selama 3 hari di tiga lokasi di Jawa Barat, pada  Sabtu (4/6) malam, Bupati melakukan ramah tamah dengan sejumlah tokoh Sumut yang disponsori pengusaha nasional, K Robert Siregar. Hadir pada pertemuan itu, Ir Tumpal Siregar MBA, Ronggur Hutagalung SH/Ibu br Sitompul, DR Edison Nainggolan/Br Sihombing, DR Timbul Sinaga/br Barus, Ir Monang MT Rumapea, St Silalahi, DR Lambok Hutasoit, DR Robert Manurung, Pdt RHL Tobing (Sekretaris Umum  PGI Jabar), LM Sinaga, Prof Pantur Silaban/Ibu br Lumbantoruan dan lain-lain.
INTENSIFKAN PERTANIAN DAN PETERNAKAN
Dalam pertemuan itu, Tumpal Siregar MBA menyatakan, telekomunikasi salah satu infra-struktur sangat dibutuhkan oleh Pemerintah Daerah dalam pembangunan sekarang ini.
Sementara itu, Ronggur Hutagalung SH menyatakan, orang Batak diperantauan tidak sedikit yang punya duit banyak. “Mereka pasti mau menanamkan uangnya di Taput apabila dianggap aman dan menguntungkan dan urusan-urusan mulai dari Kepala Desa sampai Bupati, tidak berbelit-belit dan tidak bertele-tele, ujarnya.
Prof Pantur Silaban (dosen ITB) dalam pernyataannya menyatakan, kita jangan pernah mengharapkan situasi kondisi bumi/tanah Taput berobah. “Bukan tanahnya yang akan berobah tetapi sikap mental manusialah yang merobah tanah itu dari tidak produktif menjadi produktif,” tegasnya.
Guru besar Fisika ini menyatakan, sejak zaman Adam sampai kiamat nanti, air adalah salah satu sumber kehidupan mahluk hidup yang paling penting. Baik mahluk manusia, tumbuhan, hewan, ikan, semuanya membutuhkan air. Maka Pemerintah Daerah harus memperhatikan betul-betul menyediakan  kebutuhan primer mahluk hidup itu, yakni air,” ujarnya.
Sementara Ir Monang MT Rumapea MSc yang kebetulan bertugas di PLN menyatakan, masyarakat Taput seharusnya bersyukur kepada Tuhan YME. Sebab di Taput terkandung sumber daya alam yaitu panas bumi yang sangat besar untuk Pembangkit Tenaga Listrik. Bahkan  menurut penelitian yang telah dilakukan, disebut-sebut panas bumi yang terkandung di Pahae merupakan terbesar di dunia.
Berdasarkan catatan SIB, sejak  tahun sembilan puluhan, di Silakkitang Pahae (37 km  arah tenggara pusat  Kota Tarutung) panas bumi untuk pembangkit tenaga  listrik telah mulai dirintis oleh PT Unocal. Tetapi tahun 1998, tiba-tiba terhenti akibat krisis moneter (krismon), saat mana Pemerintah sempat menghentikan sejumlah  mega-proyek  di bumi Indonesia.
Dia ungkapkan, dalam beberapa hal ini, PLN akan memutuskan siapa pemenang tender untuk Proyek Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi di Pahae, khususnya di Silakkitang (Pangaloan) dan di Sarulla.
Ada 3 (tiga) lokasi panas bumi di Pangaloan dan Sarulla. Apabila beroperasi nanti, akan dapat menghasilkan 360 MW sampai 450 MW tenaga listrik, ujar Ir Monang Sirumapea.
Sekretaris Umum PGI Jabar Pdt RHL Tobing STh menyerukan agar Tapanuli Utara yang menjadi pusat keagamaan, berubah dari peta kemiskinan menjadi peta kemakmuran dan kesejahteraan. Pdt RHL Tobing sekaligus  melayangkan doa  bersama bupati dan tokoh Sumut yang sedang berkumpul, untuk kedamaian dan kesejahteraan warga Tapanuli Utara.
Di sela-sela pertemuan dengan para tokoh Sumut itu, Bupati Taput Torang Lumbantobing kepada wartawan SIB mengatakan, di Taput masih banyak parhobas (pekerja) yang  belum bekerja secara optimal.
Namun yang pasti, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara telah berketetapan hati mengintensifkan pertanian, peternakan dan perikanan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Satu contoh, saya sudah tegaskan, di setiap kecamatan minimal harus ada traktor. Dan pihak pertanian, perternakan, perikanan harus gencar dan giat memberikan penyuluhan kepada penduduk.
Telah terbukti, mereka yang padot (giat dan tekun) mengelola lahan pertanian yang ada, banyak yang sudah hidup sejahtera dan mampu menyekolahkan putra-putrinya,” ujarnya.
Sumber : (JPH/j) Harian SIB, Bandung

Reaksi: 

0 komentar

Poskan Komentar